Oleh : Anisa Umar Bamualim

Februari yang berkabut, barangkali begitu.

Februari adalah hujan lebat, angin kencang dan terkadang badai. Sangat mungkin kapal-kapal kehilangan kendali dan menyerah kalah dalam pertarungan melawan gelombang februari yang dingin dan kejam. Ada banyak kisah tentang kapal-kapal besar yang terpaksa takluk pada badai februari, apalagi perahu sekecil itu.

Perahu itu tak lagi berbentuk. Hanya secarik layar yang kini tersangkut di sela-sela karang yang menandakan sebelumnya ia pernah ada. Layar itupun nyaris tak berbentuk, habis dicabik-cabik angin selatan yang kadang tak kenal ampun, sama nasibnya dengan puing-puing papan yang kini berserakan di bibir pantai.

Pantai itu sunyi. Hanya suara ombak dan pekik camar yang sesekali terdengar. Kabut masih menggantung tapi langit tak lagi gelap, matahari sepertinya akan muncul menggantikan hujan yang telah pergi sejak tadi. Mungkin begitu.

Lalu ada suara lain.
Barangkali berupa erangan lirih atau teriakan nyaring yang tiba-tiba datang merobek sepi. Apapun itu, sepertinya ada seseorang yang bertahan hidup. Mungkin ia merangkak perlahan atau bangkit tertatih-tatih, tubuhnya pasti perih setelah berkelahi dengan badai. Mungkin ia memandang puing-puing yang berserakan, sisa kapalnya yang kini tak ada lagi. Mungkin ia mendesah pedih, tapi setidaknya ia masih utuh dan bernyawa.

Lalu terdengar suara lain lagi.
Barangkali erangan lirih yg hampir sama. Lelaki yang tadi mungkin menoleh, mencari-cari sumber suara sebelum matanya mengkap sosok lain yang terbaring lemah di atas pasir. Mungkin terluka tapi sepertinya baik-baik saja. Kelegaan mungkin menyelubungi lelaki itu, membuatnya sejenak lupa akan rasa sakitnya sendiri dan bergegas menghampiri sosok itu. Mungkin sedetik mereka saling bertatapan sebelum sosok itu berbisik lemah disela erangan kesakitan, “Ubbu Dulla…” Mungkin kata-katanya tak selesai, tertahan perih yang menggigit. Lelaki yang tadi mungkin mengangguk, lalu balas berbisik sambil tersenyum lega “Yegi Weikareri, kita selamat saudaraku!”

Ubbu Dulla dan Yegi Waikareri.

Dua bersaudara itu sekali lagi saling bertatapan, lalu saling berpelukan lalu meledak dalam tawa kelegaan. Tak perduli lagi dengan rasa sakit yang kembali datang
menggigit. Mungkin begitu.

“Dimana Ngongu Toumatutu?” tanya Ubbu Dulla saat tiba-tiba tersadar mereka hanya berdua. Panik dengan cepat menyelimuti dua bersaudara itu. Bagaimana jika Ngongu Toumatutu tak selamat? Senyum seketika menghilang digantikan cemas yang mengharubiru. Mungkin mereka serentak berteriak memanggil-manggil namanya. Mungkin mereka tertatih-tatih menyisir pantai mencari-cari sosoknya. Lalu, entah itu di balik puing-puing, di sela-sela karang atau mungkin juga di sudut pantai yang jauh, Ngongu Toumatutu akhirnya berhasil mereka temukan. Mungkin tak sadarkan diri, mungkin terluka, tapi sepertinya tak ada yang serius, dia pun akan baik baik saja. Mungkin begitu.

Kelegaan terpancar jelas dari wajah ketiga bersaudara itu. Luka-luka sejenak terlupakan. Rasa sakit dikalahkan rasa syukur, apa lagi saat sadar mereka ada di Tei Tena. Sangat dekat dengan rumah.

Badai telah memporak porandakan mereka hingga nyaris tak ada lagi yang tersisa, kecuali mungkin sejumlah barang yang ikut terbawa gelombang dan kini berceceran di sana sini. Tapi badai yang sama telah menggiring mereka ke tempat yang tepat. Teitena memang bukan pantai tempat dulu mereka berangkat meninggalkan Weiwuang, letaknya agak jauh ke utara dan dikelilingi karang-karang tajam. Tapi badai bisa saja membawa mereka ke tempat-tempat lain yang bahkan lebih jauh lagi. Dengan kemungkinan seperti itu bisa dimengerti jika Teitena terasa sangat dekat dengan rumah. Ubbu Dulla, Ngongu Toumatu dan Yagi Waikareri kembali tersenyum lebar. Mereka telah kembali. Pulang!

Kebahagiaan itu diiringi syukur yang tiada habis. Jika pada awalnya dewa-dewa mungkin terlihat kejam karena telah sekian lama mengombang-ambingkan nasib mereka. Kini dewa-dewa terlihat sangat bermurah hati karena telah menggiring mereka pulang dengan nyawa tetap di badan. Apa lagi tatkala beberapa saat kemudian ada penduduk dari desa di sekitar situ yang datang menolong mereka. Rasa syukur dan kebahagiaan itu semakin berlipat-lipat.

Tapi sepertinya rasa itu tak bertahan lama.
Orang-orang itu ternyata tidak hanya datang membawa pertolongan tapi juga sesuatu yang lain. Sebuah berita. Berita yang membuat kebahagiaan yang baru saja dirasakan Ubbu Dulla dan saudara-saudaranya melayang pergi secepat ia datang

Rabbu Kabba tak ada lagi di Weiwuang, dia telah pergi bersama lelaki lain!

Berita itu datang seperti mata pisau yang membawa nyeri, menusuk tepat di jantung Ubbu Dulla. Mungkin ia tak sanggup percaya istrinya telah pergi. Mungkin ia merasa hampa. Sebagian jiwanya seakan dicabut dengan paksa, menyisakan ruang kosong yang remuk dan tercabik-cabik. Ubbu Dulla terluka, rasanya tak tertahankan, seribu kali lebih perih dari luka-luka akibat badai. Rabbu Kabba adalah hidupnya, tak sanggup ia bayangkan bagaimana jadinya nanti jika dia benar-benar telah pergi. Lelaki pemberani yang tak pernah takut menantang bahaya itu tiba-tiba tak berdaya menahan air mata. Ia jatuh berlutut, rahangnya terkatup rapat, tangannya terkepal erat, lalu dengan satu hentakan keras tinjunya menghantam pasir yang hanya diam membisu

Tapi walaupun hatinya teriris-iris, Ubbu Dulla masih saja tak sanggu percaya. Mungkin orang-orang ini salah bicara. Bisa jadi mereka hanya mengarang-ngarang atau mungkin mendapat informasi yang keliru. Mungkin perempuan yang mereka bicarakan bukan Rabbu Kabba. Dia tak mungkin begitu saja menelan berita yg mereka sampaikan, dia harus kembali ke Weiwuang dan mencari tahu sendiri apa yang sesungguhnya terjadi.

Dengan sedikit asa yang tersisa Ubbu Dulla dan saudara-saudaranya pun kembali ke Weiwuang.

Yang hilang kembali pulang!

Weiwuang seketika dilanda kehebohan yang diwarnai campuran berbagai rasa. Ada rasa tak percaya, orang-orang seakan dihadapkan pada kisah-kisah magis zaman kuno tentang orang-orang yang bangkit dari kematian. Ada pula rasa takjub, mereka ternganga membayangkan perjuangan ketiga bersaudara itu melawan badai yang tak kenal ampun. Dan sudah tentu, ada suka cita yang diiringi peluk cium dan tangis haru. Pemimpin yang mereka rindukan, yang mereka sangka tak akan pernah kembali lagi kini telah pulang. Hidup dan utuh.

Tapi tak ada gelak tawa.
Suka cita itu seolah mengandung cacat akibat kenyataan yang sungguh tak mengenakkan. Rabu Kabba tak ada disana. Dia tak datang bersama orang-orang. Tak ada pelukan, tak ada ciuman. Tak terdengar gelak tawa dari perempuan yang sangat dirindukan itu. Ia telah pergi. Begitu saja. Menghilang bersama laki-laki lain.

Seharusnya ini adalah momen perayaan. Ubbu Dulla dan saudara-saudaranya seharusnya ikut larut dalam suka cita itu. Mereka seharusnya tenggelam dalam kerumunan yang diwarnai suara bising dan sorak sorai. Mereka seharusnya gembira bisa kembali menginjakkan kaki di kampung tercinta, bersua kembali dengan orang-orang yang telah begitu lama dirindu. Tapi apalah artinya jika orang yang paling dicinta dan paling dirindu tak lagi ada disitu?

Perih itu kembali datang, lebih hebat dari sebelumnya. Berbagai pikiran meresahkan mungkin silih berganti menyusupi benak Ubbu Dulla, menyesakkan dadanya.
Bagaimana mungkin Rabbu Kabba bisa pergi begitu saja?
Mengapa ia tak mampu menunggu?
Apakah cinta mereka begitu saja terlupakan?
Ubbu Dulla merasa terluka dan sangat kecewa.

Lalu perlahan-lahan amarah juga datang menyelimutinya.
Apa lebihnya lelaki itu dari dirinya?
Apa yg ia tawarkan hingga Rabbu Kabba mau mengikutinya?
Api cemburu bercampur harga diri yang terinjak-injak semakin mengobarkan amarah itu.

Semburat rasa kecewa bercampur kegeraman mungkin terpancar jelas di wajah Ubbu Dulla saat ia memandangi keremunan orang-orang yang kini membisu. Kehebohan telah surut disapu keheningan bercampur bisik-bisik tak jelas. Ubu Dulla mungkin menggeleng tak percaya. Bagaimana mungkin orang-orang ini membiarkan istrinya menghilang begitu saja? Ia mungkin menggeram marah. Ini bukan hanya tentang cinta yang dikhianati tapi juga tentang kehormatan yang dilecehkan.

Ubbu Dulla meradang. Ia tak bisa diam saja. Akan dicarinya kedua orang itu dimanapun mereka berada. Tak peduli berapa jauh jarak yang harus ia tempuh atau berapa lama waktu yang harus ia habiskan, kedua orang itu akan ia temukan, hanya dengan itu kehormatanya bisa ditegakkan kembali.

Ubbu Dulla sudah memutuskan. Mungkin perlu waktu untuk menyembuhkan luka-lukanya dan kembali menghimpun tenaga yang nyaris habis digerus badai februari. Tapi tekadnya sudah bulat, cepat atau lambat dia akan pergi. Kedua orang itu harus ia temukan!

https://genpi.id/pasola-legend-episode-3-%f0%9f%92%97-pertemuan/

*
Bersambung

Oleh : Anisa Umar Bamualim



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *