Gambar Oleh : Anisa Umar Bamualim

Ubbu Dulla, Ngongu Toumatutu dan Yagi Weikareri telah hilang tanpa kabar dan untuk beberapa saat kelabu seakan menjadi warna yang membungkus wajah Weiwuang.
Orang-orang merasa kehilangan dan sudah tentu ada duka yang dalam. Tapi duka itu seakan terperangkap di tengah pusaran ketidakpastian. Tidak ada tubuh-tubuh beku yang harus dimakamkan. Tidak ada syair dan doa-doa pelepasan yang harus didaraskan. Tidak ada hewan-hewan yang harus dikorbankan. Tidak ada yang tahu pasti apa yang harus dilakukan.

Ubbu Dulla, Ngongu Toumatutu dan Yagi Weikareri memang telah hilang tanpa kabar, tapi apakah itu berarti mereka telah pergi untuk selamanya? Ketidakpastian terkadang menjadi sesuatu yang sangat memberatkan. Mungkin akan lebih mudah jika mereka ditemukan, hidup ataupun mati. Kematian pasti menyakitkan tapi setidaknya jiwa-jiwa mereka bisa dilepas dengan layak.

Tapi untuk sebagian orang ketidakpastian bisa juga sedikit membantu. Hilang tidak sefinal mati. Bagaikan pintu takdir yang belum tertutup rapat, ia masih menyisakan sedikit ruang untuk setitik asa. Dan terkadang, setitik asa itulah yang mebuat seseorang bisa tetap bertahan menjalani hari-hari yang berat. Mungkin seperti itulah yang dirasakan Rabu Kabba. Tak pastinya kabar sang suami membuatnya masih bisa berharap. Dan harapan itu membuatnya tak tumbang saat didera duka berkepanjangan, bahkan tatkala orang-orang perlahan-lahan mulai melepas asa itu dan menganggap mereka tak akan pernah kembali lagi.

Ubbu Dulla bersaudara tidak dilupakan, tapi ada masa ketika orang-orang terpaksa harus melepas harapan yang tak pasti dan melanjutkan hidup mereka yang biasa. Roda waktu terus berputar, entah kau siap atau tidak. Maka Wewuangpun kembali bergerak.

Rabu Kabba juga melanjutkan hidup seperti yang lain tapi asa itu tak ia buang. Bagaikan pelita kecil yg menawarkan secercah cahaya, asa itu menolongnya menyusuri hari-harinya yang semakin pekat.

Mungkin asa itu sesekali membawanya ke puncak karang, tempat laut lepas terlihat jelas dan ia bisa memandang jauh, berharap perahu suaminya muncul dari balik horizon. Mungkin di hari yang lain asa itu menuntunnya ke tepi pantai, tempat perahu-perahu datang dan pergi dan ia bisa melihat orang-orang yang pulang, berharap suaminya ada diantara mereka. Mungkin pada akhirnya asa itu pula yang tanpa sengaja membawanya pada takdir yang lain.

Asa dan takdir, mungkin begitu.
Terkadang saat keinginan bertemu seseorang tak terhankan kemungkinan apapun tak kita lepaskan. Tanpa sadar kira terus mencari dan mencari. Sedikit saja kemiripan bisa dengan cepat melambungkan harapan. Rambut yang sama, postur yang sama atau suara yang mirip sudah cukup membuat kita jatuh dalam permainan nasib.

Mungkin seperti itulah yang dialami Rabbu Kabba. Entah saat itu dia sedang berada di tengah kampung, di tepi jalan, di keramaian atau saat sedang sendiri di tepi perigi, asa akhirnya mendekatkan dia pada takdir yang tak pernah terbayangkan.

Atau barangkali saat itu dia sedang duduk di tepi pantai di suatu senja yang temaram, memandang laut seperti biasa. Menunggu, menunggu dan menunggu.

Barangkali saat itu semua perahu sudah menepi, orang-orang sudah kembali dan ia juga sudah hendak beranjak pulang. Namun sebelum kakinya melangkah pergi sebuah perahu lain barangkali muncul dari balik tebing batu, membuatnya kembali menunggu, kembali berharap.

Mungkin saat itu matahari sudah terjerambab di ufuk barat dan hanya menyisakan seleret sinar yang tak lagi sempurna merefleksikan bayang-bayang, sehingga saat lelaki itu turun dari perahu yang ia lihat hanyalah sosok yang sama, postur yang sama atau mungkin gerak yang sama, membuat harapannya kian melambung jauh. Namun tatkala lelaki itu mendekat, mata tak lagi mampu menipu. Dia bukan Ubu Dulla.

Mungkin ekspresi kekecawaan yang begitu jelas tergambar di wajah Rabbu Kabba, ditambah kenyataan perempuan itu hanya sendirian di senja yang hampir tertelan malam, mendorong lelaki itu untuk bertanya.

” Apakah ada yg tak beres? “
” Apakah kau baik-baik saja? “
” Apa yang kau lakukan sendirian di sini?

” Menunggu seseorang yang sepertinya belum akan kembali.” Mungkin begitu jawaban Rabbu Kabba. Dan sebelum berbalik dan melangkah pergi, mungkin saja ia sempat bertanya
” Siapa engkau? “
” Teda Gaiparona.” jawab sang lelaki.

Satu pertemuan singkat seringkali tak bermakna. Tapi jika takdir berkehendak ia bisa bersekongkol dengan semesta dan semesta punya seribu cara untuk merajut peristiwa demi peristiwa yang akan menggiringmu menuju takdir itu.

Pertemuan singkat di senja itu mungkin tak berarti apa-apa bagi mereka berdua. Bagi Rabbu Kabba, itu hanyalah satu dari sekian banyak hari yang telah ia lewatkan dalam penantian yang sia-sia. Dan bagi Teda Gaipatona, hari itu tak ada bedanya dengan hari-hari lain tatkala ia bertemu orang asing, menyapa dan berlalu. Hanya itu. Tak ada yang istimewa.

Tapi takdir berkata lain.
Sekian peristiwa mungkin terjadi setelah itu, membuat mereka kembali bersimpang jalan, lagi dan lagi dan lagi. Pada awalnya tanpa sengaja. Mungkin sekedar bersua di kampung, di perayaan atau di rumah seseorang. Mungkin pula di tepi pantai yang sama saat Rabbu Kabba kembali duduk dan menunggu. Mungkin awalnya sekedar anggukan, lalu senyuman, lalu sapaan, yang akhirnya membuka jalan dimulainya sebuah percakapan.

Percakapan adalah pintu menuju pemahaman. Pemahaman seringkali mengundang simpati, dan simpati bisa jadi berujung pada suka dan juga cinta. Begitu banyak kisah cinta berawal dari basa basi yang berubah serius. Percakapan kecil yang akhirnya menjadi besar, mengobarkan sepotong bara menjadi api yang membakar.

Mungkin ada suatu waktu tatkala Rabbu Kabba menumpahkan resah yang telah sekian lama menumpuk dan menyesak di dadanya, dan Teda Gaiparona mendengarkan. Mungkin Rabbu Kabba merasa sedikit lega sudah bicara. Mungkin ia merasa sedikit terhibur setidaknya ada yang mendengarkan. Mungkin Teda Gaiparona membisikan empati. Kata-kata penghiburan mungkin terlontar. Ia hanya berusaha menguatkan.

Lalu perlahan semuanya berubah.
Jalan hidup mulai berbelok ke arah yang tak direncanakan. Pertemuan acak yang tadinya tak disengaja perlahan mulai terpola dan akhirnya terencana. Percakapan yang awalnya sekedar empati, mulai mengarah pada sesuatu yang lain. Pada akhirnya, yang semula tak bemakna kini mulai mengundang rindu.

Dan cinta pun datang.
Rabu Kabba mendapatkan cinta baru dan ia bahagia, setidaknya hari-harinya tak lagi sekelam dulu. Ubbu Dulla mungkin tak terlupakan. Mungkin selalu ada ruang dalam hatinya tempat cinta dan kenangan itu tersimpan rapat. Tapi kini ada yang lain dan ia tak kuasa menolak. Entah sudah berapa banyak malam yang ia habiskan dengan mendaraskan doa agar suaminya segera kembali. Entah sudah berapa banyak persembahan yang ia berikan agar mereka bisa bersama lagi. Tak lagi terhitung berapa banyak air mata yang telah ia tumpahkan karena asa yang tak kunjung sampai. Nasib seolah tak berpihak kepadanya, Ubbu Dulla tak kunjung kembali.

Tapi nasib jualah yang kini memberinya sesuata yang lain:Teda Gaiparona. Lelaki itu bukan Ubbu Dulla, tapi ia mampu membuatnya kembali tersenyum, kembali merasakan sedikit kebahagiaan yang nyaris menjadi sesuatu yang asing. Mungkinkah dewa-dewa pada akhirnya memang menjawab doa-doanya? Membuatnya kembali tersenyum dengan cara yang lain? Entahlah. Yang jelas kini dia bahagia.

Tapi ada sesuatu yang juga meresahkan.
Segala sesuatu tak selamanya beres hanya karena dua insan saling mencintai. Ada kerumitan baru yang kemudian muncul karena kita tak hidup sendiri. Seringkali orang lainlah yang mengendalikan jalan hidup kita terutama pada masa tatkala adat masih begitu kental.

Rabbu Kabba dan Teda Gaiparona sadar cinta mereka tak akan berjalan dengan mudah, mereka tahu tantangan pasti akan datang. Jika Ubbu Dulla telah meniggal mungkin tak akan serumit itu, namun nasib Ubbu Dulla tak benar-benar pasti. Walau mungkin ada aklamasi tak terucap dimana orang-orang menganggap dia dan saudara-saudaranya tak akan pernah kembali lagi namun upacara pemakaman tak pernah ada. Status Rabbu Kabba tak jelas benar. Apakah ia seorang janda yang sedang berduka? Ataukah seorang istri yang harus terus menunggu? Tradisi tak memungkinkan seorang istri menikah lagi dan ada kerumitan tersendiri tentang nasib seorang janda. Ia tak lagi merdeka, ada banyak orang yang harus ia dengarkan, apa lagi saat tak jelas benar apakah suaminya hilang atau mati.

Mungkin resiko kehilangan tak mampu mereka tanggung sehingga keputusan itupun diambil. Di suatu siang yang sepi, atau di suatu malam yang gelap, atau mungkin pagi-pagi sekali saat kokok ayampun belum lagi terdengar, mereka pergi. Diam-diam. Meninggalkan Weiwuang untuk selamanya.

Apakah Rabbu Kabba tak setia? Bagi sebagian orang bisa jadi begitu. Tapi tak ada suami yang dikhianati. Mungkin ia hanya lelah menunggu, apa lagi jika tak pasti apa yang ditunggu. Apakah pergi diam-diam adalah putusan yg salah? Mungkin ia, mungkin juga tidak. Mungkin tak seharusnya mereka melarikan diri. Tapi mungkin juga pilihan lain tak ada lagi. Entahlah. Terkadang ada masa tatkala batas antara salah dan benar tak jelas benar, apalagi jika dihadapkan pada harapan yang pupus dan masa depan yang tak tentu.
https://genpi.id/pasola-legend-episode-2-%e2%8f%b3-penantian/

**

Bersambung https://genpi.id/pasola-legend-episode-4-%e2%98%81%f0%9f%8c%b4pulang/

Oleh : Anisa Umar Bamualim



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *