Gambar Oleh : Anisa Umar Bamualim

Kampung itu bernama Weiwuang. Bertengger di atas cadas setinggi 400 meter di atas permukaan laut, di situlah tempat semuanya bermula.

Tak ada lagi yang tahu pasti berapa ratus tahun telah berlalu. Angka-angka telah mengabur dalam memori. Tapi kisah itu tetap bertahan. Begitu pula nama-nama, yang terus hidup dalam ingatan.

Ubu Dulla, Rabu Kabba, Teda Gaiparona. Ini kisah tentang mereka dan semuanya bemula
di Weiwuang.

Ada suatu masa ketika hidup menjadi sulit. Kemarau berkepanjangan dan hasil laut tak menentu. Persediaan makanan kian menipis dan warga Wewuang harus meniti hari demi hari dalam penderitaan panjang yang entah kapan akan berakhir.

Penderitaan yang sama dirasakan juga oleh Ubu Dulla, Ngongu Toumatutu dan Yagi Weikareri, tiga bersaudara yang selama ini menjadi pemimpin Weiwuang. Penderitaan mereka bahkan lebih dalam lagi karena ditekan rasa tak berdaya. Seperti yang lain, fisik mereka menderita. Tapi lebih dari yang lain, nurani mereka juga terusik akibat rasa tanggung jawab yang sepertinya tak sepenuhnya mampu mereka penuhi. Alam yang tak bersahabat berada di luar kendali mereka. Rakyat menderita dan mereka tak bisa berbuat banyak.

Hingga akhirnya datang kabar tentang Mahukarera, negeri jauh tempat bahan makanan mudah didapat. Padi, jagung, kerbau, ayam katanya tersedia. Bukan hanya tersedia, bahkan melimpah ruah. Bagi rakyat Wewuang yang telah lama menderita, Mahukarera adalah harapan. Kabar tentang Mahukarera bagaikan bisikan merdu para dewa yang sepertinya mulai menjawab sekian banyak doa yang sudah mereka lantunkan di malam-malam sunyi penuh derita.

Negeri itu mungkin jauh dan jalan kesana pastilah tak mudah. Ada lautan, padang dan hutan-hutan liar yang harus dilalui dan nyawa bisa saja melayang. Tapi pilihan apa lagi yang tersisa jika hidup ratusan orang dipertaruhkan? Mahukarera adalah satu-satunya jalan, dan Ubu Dulla beserta kedua saudaranya bertekad menempuh jalan itu.

Pergi meniggalkan kampung halaman tak pernah menjadi putusan yang mudah. Ada orang-orang terkasih yang harus ditinggalkan tanpa tahu kapan bisa bertemu kembali. Pilihan itu berat, terutama bagi Ubu Dulla yang harus meninggalkan istri tercintanya, Rabbu Kabba. Putusan itu juga berat bagi Rabbu Kabba, yang harus merelakan suaminya pergi menantang bahaya. Pilihan itu berat bagi mereka berdua tapi terkadang cinta dan kenyamanan harus mengalah demi hal-hal yang lebih besar.

Dan Ubu Dulla pun pergi.
Di suatu hari yang mungkin terik dan berangin, ia naik ke atas perahu bersama saudara-saudaranya dan berlayar pergi mencari negeri harapan. Perahu mereka mungkin sederhana dan barangkali tak cukup layak menempuh lautan yang jauh. Tapi tekat yang kuat adalah bahan bakarnya dan harapan sekian banyak orang adalah mesin pendorongnya, sudah lebih dari cukup untuk membuat perahu kecil itu terus melaju.

*
Bersambung https://genpi.id/pasola-legend-episode-2-%e2%8f%b3-penantian/

Oleh : Anisa Umar Bamualim



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *