Mengenal Batik Kawung, Corak Batik yang Menghiasi Bandara NYIA



Sumber : kompas.com

Bagi yang sudah atau akan mendarat di New Yogyakarta International Airport, Anda perlu tahu kalau bandara ini dibangun dengan arsitektur yang luar biasa. Bandara dibangun mengusung arsitektur budaya Jawa sejak pendatang masuk ke kompleks bandara. Nah terdapat satu corak yang paling menonjol dan mencuri perhatian semenjak masuk lewat lobby sampai ke terminal. Corak tersebut adalah motif batik Kawung. Jika ada yang tidak tahu, bentuk motif ini terdiri dari 4 bulatan lonjong yang mengelili lingkaran. Pendatang dapat menemukan motif ini dibanyak tempat di area bandara. Contohnya adalah atap bandara, dinding couter check-in, stiker kaca dan lantai. Yang terunik adalah di bagian atap mulai dari lobby. Design atap ini membuat bandara NYIA terlihat sebagai sepetak batik yang indah dari atas. Jika di malam hari, atap ini berubah jadi skylight yang menyala warna gradasi pink, ungu dan merah.

Sumber : google images

Banyak nya corak Kawung yang digunakan di sudut NYIA, kira-kira kenapa ya motif ini dipilih?

Desain motif Kawung yang dipakai NYIA mengambil falsafah utama manunggaling kawula Gusti / persatuan dengan Tuhan. Kawung adalah simbolisasi dari pencapaian menuju hakikat. Sebenarnya motif Kawung memiliki banyak corak. Motif Kawung yang digunakan di NYIA adalah motif yang telah diatur secara geometris sehingga keempat bulatan seginya simetris. Pola motif terdiri dari empat bulatan lonjong dan sebuah titik ditengahnya.

Sumber : google images

Motif Kawung sejatinya diambil dari buah pohon aren atau palem yang berbentuk bulat lonjong warna putih. Simbol buah aren dipilih bukan tanpa maksud, ia memiliki filosofi kehidupan. Ditinjau dari kegunaan pohon aren sendiri, hampir seluruh bagian pohonnya dapat dimanfaatkan atau berguna bagi manusia. Hal ini dimaknai bahwa pohon aren membawa manfaat bagi orang lain. Filosofi tersebut diterapkan ke dalam hidup manusia bahwa orang yang memakai batik dengan motif ini bisa menjadi individu yang berguna bagi sesama.

Tak hanya itu, sebelum Kerajaan Mataram terbagi jadi dua batik Kawung hanya digunakan untuk busana Raja. Dari situ motif Kawung dimaknai sebagai lambang kekuasaan, peindung, dan pengayom masyarakat. Namun saat ini Kawung dimaknai sebagai simbol persatuan rakyat dan rajanya.

Filosofi Kawung juga datang dari keempat bulatan lonjong dan warna motif. Empat bulatan lonjong tersebut memanifestasi empat nafsu manusia yaitu mutmainah, aluamah, amanah dan supiah. Ada pula melambangkan 4 arah mata angin yang berporos pada pusat kekuatan yakni : utara lambang tempat para dewa, barat tempat matahari terbenam / turunnya keberuntungan, selatan adalah puncak segalanya dan timur tempat matahari terbit / sumber kehidupan.

Orang Jawa memang punya segudang filosofi dan begitulah sedikit filosofi dari Batik Kawung.

Ditulis oleh Andrea Aurelia dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada program magang Genpinas 2020.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *