Sumber: @chaandd

Dikepung oleh hamparan sawah dan hutan kecil di salah satu sisinya, Desa Ke’te Kesu sebuah desa wisata budaya Tana Toraja berdiri di antaranya. Ke’te Kesu yang digadang-gadang sebagai potret terlengkap pemukiman Toraja dapat dikunjungi di Kampung Bonoran,Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Berkat keasliannya, Ke’te Kesu dinobatkan sebagai Cagar BUdaya Warisan Dunia oleh UNESCO. Trademark Land of Heavenly Kings julukan Sulawesi Selatan sebagai tanah yang kental dengan budaya dan eksotisme keasrian alam, salah satunya tergambar di Ke’te Kesu. Kawasannya menyimpan gaya kehidupan keseharian penghuninya dengan filosofi-filosofi yang dijunjung.

Sumber: detiktravel.com

Inilah penampakan bangunan iconic Ke’te Kesu yang memamerkan Tongkonan, sebuah rumah adat masyarakat Toraja. Kepopuleran bangunan ini tidak perlu diragukan lagi di tanah ia berdiri. Total berdiri 6 buah rumah Tongkonan bersama 12 lembung / alang di seberangnya yang masih berdiri kokoh walau sudah mencapai usia lebih dari 300 tahun. Kedua bangunan ini berjejer rapih di sisi kanan kiri jalan. Sebuah pusat kehidupan sosial suku Toraja tentu betul-betul dijaga oleh masyarakat sekitar.

Tongkonan dan alang itu berbentuk rumah panggung dan atapnya berbentuk bagai perahu. Tulang rangka dan dinding Tongkonan dibuat dari kayu uru, sedangkan atapnya dari gelondongan bambu yang disusun bertumpuk. Di atas pintu masuk terpasang kepala kerbau (warna putih, hitam atau belang) dan tanduk kerbau. Ada pun di beberapa rumah terdapat tambahan patung kepala ayam atau naga sebagai tanda derajat sosial. Di bawah sinar matahari yang terik, detail bangunan dari pilar dan kerangka Tongkonan jadi objek amatan yang unik dari dekat. Ukiran yang ‘ramai’ dengan warna mencolok di seluruh permukaan dinding tak kalah menarik perhatian. Para pelancong biasanya duduk santai untuk berteduh atau beristirahat di bawah Tongkonan setelah melihat-lihat.

Belum puas hanya melihat peninggalan rumah adat setelah melakukan perjalanan 14 kilometer dari Kota Makale, pelancong juga dapat menilik makam tebing di belakang Tongkonan. Cukup berjalan sebentar ke belakang Tongkonan melewati jalan cor khas desa, pelancong akan masuk ke kawasan makam tebing. Ada dua bangunan makam yaitu rumah batu yang usianya lebih tua dan patane yang masih berusia 20 tahun. Kedua makam itu berbentuk rumah. Patane memiliki ukiran matahari di tengahnya dan tergantung foto bangsawan yang dikuburkan di dalamnya.

Sumber: @cholies_cyclist

Sebenarnya dari tempat berdiri di depan Patane, pelancong sudah dapat melihat makam tebing yang cukup tinggi. Pada dinding tebing gua itu tergantung puluhan peti mati (erong) yang disangga menggunakan beberapa bilah kayu atau tumpukan batu. Erong-erong tersebut dipahat agar berbentuk perahu atau sapi, kemudian mayat bangsawan Toraja disimpan di dalamnya. Perahu adalah lambang pengingat warga Toraja akan leluhur mereka yang menggunakan perahu sebagai alat transportasi sampai di Tana Toraja.

Sekitar makam tebing tempat puluhan erong ini tergeletak puluhan tengkorak-tengkorak masyarakat biasa yang tidak dimasukkan ke dalam peti. Keberadaan tengkorak-tengkorak ini membuat kawasan tebing itu menjadi lebih mistis. Adapun beberapa makam tradisional yang sudah ditutup pagar dengan tujuan mengurangi pencurian jenazah. Saat ini, upacara pemakaman peti mayat sudah tidak hanya diisi oleh bangsawan Toraja. Namun rakyat biasa yang memiliki uang dapat melakukan upacara tersebut.

Bila berkunjung ke Tana Toraja, sempatkan untuk datang ke Ke’te Kesu ya. Biaya masuk ke desa wisata ini dikenai biaya Rp 15.000 untuk turis lokal dan Rp 30.000 untuk mancanegara. Jangan lupa mendukung perekonomian setempat dengan memberi buah tangan beruba ukiran khas toraja seperti hiasan dinding, miniatur tongkonan dan sarung pedang

Tulisan ini dibuat oleh Andrea Aurelia dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada program magang Genpinas 2020.

Sumber :

https://www.liputan6.com/news/read/2361143/melongok-eksotika-kuburan-batu-kete-kesu-di-toraja-utara

https://travel.detik.com/domestic-destination/d-3407466/tongkonan-rumah-adat-toraja-yang-penuh-simbol-dan-makna



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *