Selain mendapat gelar kota budaya Yogyakarta juga dikenal sebagai jantung batik. Tidak heran banyak kreasi batik yang dapat dijumpai di kota ini. Kreasi batik tidak melulu ditorehkan di lembaran kain mori atau pahatan kayu saja karena ada kreasi lain yaitu di pisau. Adalah kerajinan pisau batik logam yang merupakan salah satu hasil kreatifitas menambah nilai guna barang dengan menyisipkan nilai budaya batik ke dalamnya. Siapa yang tidak menengok melihat pisau berhias motif-motif lentik? Apalagi jika gagangnya juga diukir dan dilukis jadi bentuk tertentu. Keunikan itu diusung oleh Darmo Sudiman, seorang pembuat pisau. Idenya berangkat dari kreasi budaya lokal yang dibuat secara mandiri dengan memanfaatkan bahan lokal dan memperkerjakan masyarakat setempat. Ia juga memproduksi pisau craving yang packaging nya dari kabel jack. Unik-unik ya..

Bertempat di tengah kampung Krengseng, Bantul, Yogyakarta, Diman memproduksi sendiri pisau-pisau batik miliknya. Di samping rumahnya tersimpan alat asah pisau dan halaman rumahnya menjadi tempat pisau dibatik tiap harinya. Di Tahun 2010 Diman mulai mencoba mengkreasikan batik pisu. Inovasi Diman ini menerima respon yang baik dan mampu menembus pasar Malaysia hingga Perancis. Tekstur detail pola batik memberi kecantikan di kedua sisi pisau. Pola-pola itu lebih menonjol dari permukaan mata pisau sekitarnya dan hampir menutupi seluruh permukaan pisau. Bagian yang disisakan tanpa pola adalah bagian tajam mata pisau. Ada ratusan pola batik yang sudah digunakan untuk menghias badan pisau. Diman mengklaim pola tersebut tidak akan hilang. Justru akan semakin nampak jelas jika sering dipakai memotong.

Proses pembuatan

Sesuai namanya, pisau batik logam dibuat dari bahan logam karena karakterisiknya kokoh dan halus. Untuk membuat sebuah pisau batik melalui beberapa proses pembuatan. Pertama-tama proses produksi diawali dengan membuat pisau terlebih dahulu. Cetakan bentuk pisau digambar di lembaran logam dan dilanjutkan penggerendaan untuk menghasilkan mata pisau yang tajam. Setelah tajam, pisau dipoles agar logam mengkilat dan tidak ada noda tertinggal. Setelah itu masuk ke tahap seni yaitu proses mencanting malam ke pori-pori logam yang licin dan mengkilat. Membatik dikerjakan oleh tangan-tangan lihai nan sabar membubuhkan malam menjadi corak batik yang elok. Ciri khas dari pisau batik Pak Diman adalah perbedaan corak di dua sisi mata pisau. “Itu jadi khas punya saya, sengaja agar orang tahu ini dikerjakan tangan sendiri”, jelas Pak Diman saat ditemui di rumahnya. Di tahap terakhir pisau direndam ke dalam larutan kimia selama 2 hari 2 malam. Bagian logam yang tidak terkena malam akan mengalami korosi / terkikis sehigga menghasilkan pola batik yang timbul pada bagian yang tertutup malam. Seluruh proses ini kira-kira memakan waktu 3 hari.

Paket membuat pisau

Bagi sobat Genpi yang ingin mencoba membuat pisau batik sendiri dapat mengunjungi Sentra Cipta Batik Logam. Di depan kediaman Pak Diman dibangun galeri tempat memajang hasil  pisau batik dengan berbagai ukuran dan motif. Ada pula yang didesain satu paket dengan tema tertentu seperti Punakawan. Terdapat dua paket untuk wisatawan yang ingin membuat pisau sendiri. Pertama yaitu paket 3 hari/4 malam dengan biaya 150.000 / orang. Paket termasuk mendapat fasilitas makan 3x dalam sehari, menginap, mendapat alat praktek dan membawa pulang pisau batik logam. Ada pula paket satu hari seharga 100.000 / orang. Kedua paket ini minimal diikuti 20 orang ya.

Ayo kita dukung UMKM dengan bangga pakai buatan Indonesia 😀

Ditulis oleh Andrea Aurelia dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada program magang Genpinasi 2020.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *